Hari ini, Senin 22 Oktober 2012 jam 03.00 PM saya dan anak pak Ukat, namanya Heri, menjual tapioka ke pasar ciluer.
Usaha pertama ke sebuah pabrik penampungan. Sesampainya di sana kami langsung disuruh memundurkan mobil dikarenakan tidak ada antrian berarti untuk menjual aci, nama lain tapioka. Pemilik pabrik langsung menusukkan benda tajam, seperti tusukan untuk mengambil sampel aci dan langsung diremas remas sedikit, dilihat warnanya dan olala... aci saya dihargai Rp. 4,500. sedih bercampur heran. Sederhana sekali proses uji mutu yang berakhir di harga, yang menurut saya sangat subjektif sekali.
Usaha kedua : mobil berjalan lagi ke arah pasar ciluer menuju tempat Bapak Acep, kata Heri, di sana koperasi tempat pengrajin aci menjual hasil produknya. Sebelum mobil parkir, heri wanti-wanti ke saya, " pak, nanti kalau sampai di tempat bapak jangan turun yaa. Soalnya mereka itu kalau lihat orang baru, hasil acinya dihargai murah". OMG... ini keanehan kedua saya. Betapa gelapnya pasar aci di bogor.
Tentu saja sebagai orang baru, ini mengejutkan saya sekaligus merupakan tantangan. Kesimpulan pertama saya dalam menjual aci : Jangan remehkan pengalaman pendahulu kita. Boleh jadi memang "NAMA" yang menyetor aci dihargai lebih tinggi ketimbang kualitas aci itu sendiri.
TABIK.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar